Arah Kebijakan FITK Dibahas oleh Sejumlah Guru Besar

Discovery Ancol, Jakarta Utara, BERITA FITK Online- Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) UIN Jakarta menggelar diskusi panel bertajuk "Review Arah Kebijakan FITK" sebagai bagian dari agenda Rapat Kerja tahun 2023. Diskusi panel tersebut dihadiri oleh guru besar dan dekan senior FITK, yaitu Prof. Dr. Abuddin Nata, M.A., Prof. Dr. Dede Rosyada, M.A., dan Dr. Sururin, M.Ag. Diskusi dipandu oleh Dekan FITK, Siti Nurul Azkiyah, M.Sc., Ph.D.
Dalam diskusi panel yang berlangsung di Ballroom, ketiga narasumber tersebut diberikan waktu 15 menit masing-masing untuk menyampaikan pemaparannya mengenai arah kebijakan FITK tahun 2024. Prof. Abuddin Nata membahas pentingnya meningkatkan kualitas pendidikan Islam di era digital dengan memanfaatkan teknologi yang tepat dan menggali potensi kolaborasi antara FITK dan dunia industri. Ia juga menyoroti perlunya pengembangan kurikulum yang relevan dengan tuntutan zaman.
Profesor yang pernah menjabat Ketua Senat UIN Jakarta periode 2019-2023 itu mengatakan FITK bisa menjadi ideal jika, dapat mewujudkan visi, misi yang telah dirumuskannya, serta dapat melahirkan guru profesional sebagaimana yang ditentukan Undang-undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen. FITK yang ideal juga menurutnya adalah yang dapat mewujudkan guru yang memiliki kualifikasi akademik, kompetensi, sertifikat pendidik, sehat jasmani dan rohani, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional.
Sementara itu, Prof. Dede Rosyada memfokuskan pemaparannya pada student mobility. Menurut Raktor UIN Jakarta 2015-2019, FITK harus mempersiapkan MoU dengan universitas lain di ASEAN atau Asia Pasifik dalam tiga domain Dikjar, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat Selain itu, Prof. Dede Rosyada juga menyarankan mengundang dosen dari negara tujuan untuk melakukan workshop di FITK tentang program yang dikembangkan ke depan.
Profesor yang kini menjabat sebagai Ketua Senat UIN Jakarta itu menyoroti soal program studi unggulan. Menurutnya, FITK saat ini harus terafiliasi dengan Lamdik, dan akreditasi prodi harus masuk ke Lamdik. Oleh karena itu menurutnya, FITK harus menyiapkan pengembangan prodi dengan mengggunakan instrumen Lamdik. Selain itu, penting menurutnya kegiatan prodi harus dikembangkan dengan orientasi internasional, baik penelitian kolaboratif, konferensi internasional serta publikasi internasional bereputasi.
Dr. Sururin, sebagai narasumber ketiga, membahas isu tentang FITK UIN Jakarta untuk Indonesia Emas 2045. Ia menanyakan ke peserta rapat bagaimana peran FITK untuk berkontribusi dalam mewujudkan Indonesia Emas 2045. Dekan FITK periode 2019-2023 itu kemudian menyampaikan sebuah sebuah catatan yang ditulis oleh Presiden republik Indonesia Joko Widodo dengan judul “Impian Indonesia 2015-2085”.
Ibu kelahiran Bojonegoro Jawa Timur itu kemudian menjabarkan tulisan Jokowi pada tahun 2015 tersebut. Pertama, SDM Indonesia yang kecerdasannya mengungguli bangsa lain di dunia. Kemudian, masyarakat Indonesia menjunjung tinggi pluralisme, berbudaya, religius dan menjunjung nilai-nilai etika. Poin selanjutnya adalah Indonesia menjadi pusat pendidikan dan teknologi peradaban dunia.
Berikutnya adalah masyarakat dan aparatur pemerintah bebas dari korupsi. Terbangunnya infrastruktur yang merata di seluruh Indonesia. Indonesia menjadi negara yang mandiri dan negara yang paling berpengaruh di Asia Pasifik. Poin terakhir adalah Indonesia menjadi barometer pertumbuhan ekonomi dunia.
Menurutnya, catatan Presiden itu menarik untuk didiskusikan sebagai landasan bagaimana FITK sebagai lembaga pendidikan menyusun program kerja ke depan. Karena menurutnya, FITK memiliki SDM yang sangat kompeten dan mampu berkontribusi untuk mewujudkan visi Indonesia Emas 2045 itu.
Setelah pemaparan oleh ketiga narasumber, diskusi panel dibuka untuk sesi tanya jawab yang melibatkan peserta rapat kerja. Beberapa topik yang dibahas dalam sesi tersebut meliputi peningkatan kualitas pembelajaran, integrasi teknologi dalam proses belajar-mengajar, pengembangan kurikulum yang berorientasi ke masa depan, dan upaya pemekaran fakultas.
Dalam penutup diskusi panel, Dekan FITK, Siti Nurul Azkiyah, M.Sc., Ph.D., menyampaikan apresiasi atas kontribusi dan gagasan yang disampaikan oleh para narasumber. Ia menegaskan komitmen FITK untuk terus berinovasi dan beradaptasi dengan perubahan zaman demi meningkatkan kualitas pendidikan Islam dan menghasilkan lulusan yang berkualitas.
Diskusi panel mengenai arah kebijakan FITK 2024 ini diharapkan dapat memberikan masukan yang berharga bagi pengembangan FITK di masa mendatang. (MusAm)

