Dari Panggung ke Ruang Sidang: Mahasiswa PBSI UIN Jakarta Raih Cum Laude Lewat Naskah Drama
Dari Panggung ke Ruang Sidang: Mahasiswa PBSI UIN Jakarta Raih Cum Laude Lewat Naskah Drama
Gedung FITK, BERITA FITK Online— Jakarta – Di tengah upaya perguruan tinggi menghadirkan pembelajaran yang semakin adaptif, Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia dan Sastra (PBSI) Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta terus mengembangkan model tugas akhir yang tidak hanya bertumpu pada skripsi konvensional. Melalui jalur penciptaan karya, mahasiswa didorong menghasilkan luaran akademik yang berdampak bagi dunia sastra, pendidikan, dan industri kreatif.

Model tersebut kembali ditunjukkan dalam sidang tugas akhir mahasiswa PBSI, Novia Fitri Zahroh, yang mempertahankan naskah drama Setubuhi Laut Hilang Nyawa Perempuan pada Kamis (16/7/2026) di Ruang Sidang FITK Lantai 2 UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Sidang yang berlangsung pukul 09.00–11.00 WIB itu mengantarkan Novia lulus tepat waktu dengan predikat cum laude.
Berbeda dengan sidang skripsi pada umumnya, suasana akademik berpadu dengan atmosfer kesenian. Acara dibuka oleh Ketua Program Studi PBSI, Dr. Ahmad Bahtiar, M.Hum., dilanjutkan sambutan Wakil Dekan Bidang Akademik FITK, Dr. Yanti Herlanti, M.Pd. Suasana semakin hidup melalui penampilan dramatic reading yang dibawakan Sakustik, salah satu Lembaga Semi Otonom (LSO) Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS) PBSI. Sidang juga dihadiri kedua orang tua Novia, dosen, mahasiswa, serta sutradara teater dari Cilegon yang turut menyaksikan proses akademik tersebut.

Dalam sambutannya, Ahmad Bahtiar menegaskan bahwa tugas akhir mahasiswa tidak harus selalu berbentuk skripsi. Menurutnya, perguruan tinggi perlu memberikan ruang yang lebih luas bagi mahasiswa untuk menunjukkan kompetensinya melalui berbagai bentuk karya yang tetap memenuhi standar akademik.
"Selama ini masyarakat mengenal tugas akhir hanya berupa skripsi. Padahal di PBSI kami telah membuka beberapa jalur, yakni skripsi, artikel ilmiah yang dipublikasikan pada jurnal, serta penciptaan karya seperti naskah drama yang dipertanggungjawabkan melalui sidang akademik. Ke depan kami berharap semakin banyak mahasiswa menghasilkan novel, kumpulan puisi, kritik sastra, atau karya kreatif lainnya yang diterbitkan oleh penerbit nasional," ujar Ahmad Bahtiar.
Menurutnya, setiap karya tetap disertai naskah akademik yang memuat landasan teori, metode penciptaan, proses kreatif, dan analisis ilmiah sehingga memiliki bobot akademik yang setara dengan bentuk tugas akhir lainnya.

PBSI juga tengah menyiapkan skema tugas akhir berupa pengembangan media pembelajaran. Produk yang dihasilkan mahasiswa nantinya tidak hanya diuji secara akademik, tetapi juga akan didaftarkan sebagai Hak Kekayaan Intelektual (HKI) sehingga dapat dimanfaatkan oleh sekolah, guru, dan masyarakat sebagai inovasi pembelajaran.
Wakil Dekan Bidang Akademik FITK, Dr. Yanti Herlanti, M.Pd., mengapresiasi inovasi yang dikembangkan PBSI dalam menghadirkan model evaluasi pembelajaran yang adaptif terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan kebutuhan masyarakat. Menurutnya, keberagaman bentuk tugas akhir memberi ruang bagi mahasiswa untuk menunjukkan kompetensi secara lebih autentik sekaligus menghasilkan karya yang memiliki dampak nyata.
Keberhasilan Novia tidak lahir secara instan. Dosen pembimbing sekaligus pengampu mata kuliah Drama, Rosida Erowati, M.Hum., menjelaskan bahwa proses kelahiran Setubuhi Laut Hilang Nyawa Perempuan berawal dari pembelajaran di kelas drama yang kemudian berkembang melalui diskusi, eksplorasi tema, penulisan naskah, pembacaan bersama, revisi, hingga pendampingan intensif sebelum menjadi tugas akhir.

Rosida selama ini dikenal konsisten membangun ekosistem pembelajaran sastra dan teater di PBSI melalui Pestarama (Pentas Apresiasi Sastra dan Drama) yang tahun ini memasuki penyelenggaraan ke-11. Kegiatan tahunan tersebut menjadi ruang bagi mahasiswa untuk mengapresiasi karya sastra sekaligus mempresentasikan hasil pembelajaran melalui pementasan drama, pembacaan karya sastra, dan berbagai aktivitas kreatif lainnya. Dari ruang inilah mahasiswa belajar mengembangkan gagasan, mengasah kemampuan artistik, berkolaborasi, hingga menguji karya di hadapan publik sebelum dipertanggungjawabkan sebagai karya akademik.
"Kami ingin mahasiswa tidak hanya memahami teori drama, tetapi juga mengalami proses kreatif secara utuh. Mereka belajar menemukan ide, menulis, merevisi, berdiskusi, membaca naskah, hingga melihat bagaimana karya itu bertemu dengan penonton. Dari proses itulah lahir karya-karya yang memiliki kualitas artistik sekaligus memenuhi standar akademik," ujar Rosida.
Karya Setubuhi Laut Hilang Nyawa Perempuan terlebih dahulu terpilih sebagai penerima Hibah Fasilitas Pemajuan Kebudayaan (FPK) Tahun 2026 dari Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah VIII Banten. Dalam pelaksanaan program tersebut, naskah Novia kemudian memperoleh pendampingan dan dikurasi oleh Bambang Pribadi, M.Hum., sebelum diproduksi dan dipentaskan di Kota Cilegon bersama para pegiat teater.
Pementasan tersebut menjadi ruang uji publik yang mempertemukan karya Novia dengan penonton, seniman, dan komunitas budaya. Dengan demikian, sebelum dipertanggungjawabkan dalam sidang akademik, naskah ini telah melalui serangkaian proses mulai dari seleksi hibah kebudayaan, pendampingan dan kurasi, hingga pementasan di ruang publik. Rangkaian tersebut menunjukkan bahwa karya yang lahir dari kampus tidak berhenti sebagai dokumen akademik, tetapi juga memperoleh pengakuan dalam ekosistem kebudayaan.
Dalam sidang, Novia didampingi Rosida Erowati, M.Hum., sebagai dosen pembimbing serta diuji oleh Dr. Noviah Diah Haryanti, M.Hum. dan Atiqotul Fitriyah, M.Hum. Selain menguji kualitas dramatik naskah, para penguji juga mendalami argumentasi akademik mengenai proses penciptaan, pendekatan teoretis, pilihan estetik, serta relevansi isu perempuan dan lingkungan yang menjadi tema utama drama tersebut.
Novia merupakan mahasiswa kedua PBSI UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang menyelesaikan studi melalui jalur penciptaan karya drama. Sebelumnya, Ridho Hafiedz membuka jalur tersebut melalui naskah drama Makan yang kemudian dipentaskan oleh Teater Syahid. Kehadiran dua lulusan melalui jalur karya menunjukkan bahwa model tugas akhir kreatif di PBSI bukan lagi sebuah eksperimen, melainkan telah menjadi bagian dari budaya akademik program studi.
Transformasi tersebut mencerminkan arah baru pendidikan tinggi yang semakin menekankan luaran nyata (outcome-based education). Artikel ilmiah, karya sastra, pementasan, maupun produk media pembelajaran diposisikan sebagai bentuk capaian akademik yang memberi manfaat langsung bagi masyarakat. Mahasiswa tidak hanya menyelesaikan studi untuk memperoleh gelar sarjana, tetapi juga menghasilkan karya yang dapat dipublikasikan, dipentaskan, dimanfaatkan di dunia pendidikan, bahkan memperoleh perlindungan Hak Kekayaan Intelektual.
Bagi PBSI UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, sidang Novia bukan sekadar peristiwa kelulusan seorang mahasiswa. Lebih dari itu, peristiwa ini menjadi penanda bahwa riset, kreativitas, dan pertanggungjawaban ilmiah dapat berjalan beriringan. Ketika kampus memberi ruang bagi berbagai bentuk karya akademik, mahasiswa tidak hanya lulus sebagai sarjana, tetapi juga sebagai pencipta pengetahuan dan kebudayaan yang siap memberi kontribusi bagi masyarakat. (red. PBSI)
