Dr. Kellie Frost Soroti Relasi Kebijakan, Praktik, dan Dampak Tes Bahasa Inggris di Asia dan Australia
Dr. Kellie Frost Soroti Relasi Kebijakan, Praktik, dan Dampak Tes Bahasa Inggris di Asia dan Australia

Dr. Kellie Frost Soroti Relasi Kebijakan, Praktik, dan Dampak Tes Bahasa Inggris di Asia dan Australia

 

Jakarta, BERITA FITK Online—Rangkaian The 72nd TEFLIN International Conference yang berkolaborasi dengan The 10th International Conference on Education in Muslim Societies (ICEMS) dan The 2nd TESOL Research Colloquium memasuki sesi keynote terakhir pada Jumat (9/10/2026). Sesi yang berlangsung di Ruang Konferensi Lantai 2 Syahida ini menghadirkan Dr. Kellie Frost dari The University of Melbourne, Australia, dengan materi bertajuk “English Testing in Asia and Australia: Entangled Policies, Practices, and Effects.”

Dalam pemaparannya, Dr. Frost mengajak peserta konferensi untuk melihat pengujian bahasa Inggris secara lebih kritis, tidak hanya sebagai instrumen untuk mengukur kemampuan berbahasa, tetapi juga sebagai praktik yang berkaitan erat dengan kebijakan, kepentingan sosial-politik, dan pengalaman hidup para peserta tes.

Ia menekankan bahwa tes bahasa memiliki konsekuensi yang luas karena hasilnya dapat memengaruhi akses seseorang terhadap pendidikan, pekerjaan, registrasi profesi, hingga peluang migrasi internasional. Oleh karena itu, penyelenggaraan dan penggunaan tes bahasa perlu mempertimbangkan konteks sosial serta dampaknya terhadap individu dan kelompok masyarakat.

Dr. Kellie Frost

Menurut Dr. Frost, pengukuran kemampuan bahasa tidak sepenuhnya terlepas dari nilai dan asumsi tertentu. Proses penyusunan instrumen, analisis hasil, penetapan standar kelulusan, hingga pemanfaatan skor tes dapat mencerminkan pandangan tertentu mengenai bahasa yang dianggap baik, sah, atau sesuai dengan standar yang berlaku.

Perspektif tersebut menjadi landasan penting dalam pendekatan critical language testing atau pengujian bahasa kritis. Melalui pendekatan ini, para peneliti dan praktisi pendidikan bahasa didorong untuk mempertanyakan asumsi di balik sistem pengujian, termasuk bagaimana standar kemampuan bahasa dibentuk dan bagaimana standar tersebut memengaruhi identitas serta kesempatan hidup para peserta tes.

 

Menyoroti Dampak Tes Bahasa terhadap Kehidupan Individu

Dr. Frost juga membagikan pengalamannya ketika terlibat dalam pengembangan dan pengolahan hasil Occupational English Test (OET), yaitu tes bahasa Inggris yang digunakan untuk memenuhi persyaratan profesi kesehatan di Australia, termasuk bagi dokter dan perawat yang menempuh pendidikan di luar negeri.

Pengalaman tersebut membawanya pada persoalan yang lebih mendalam mengenai konsekuensi sosial dari pengujian bahasa. Ia menemukan adanya peserta tes yang harus mengikuti ujian berulang kali karena belum memenuhi persyaratan skor pada seluruh keterampilan bahasa yang diujikan.

Dalam paparannya, ia menceritakan bahwa sebagian peserta IELTS bahkan dapat mengikuti tes hingga 25 kali demi memenuhi persyaratan visa, dengan biaya sekitar 400 dolar Australia untuk setiap pelaksanaan tes pada konteks yang ia teliti. Pengalaman ini mendorongnya untuk mengkaji lebih jauh hubungan antara penilaian bahasa, kebijakan migrasi, dan dampak yang ditanggung oleh individu.

Pengalaman tersebut memperkuat pandangannya bahwa peserta tes tidak semestinya dipandang semata-mata sebagai objek pengukuran. Mereka memiliki latar belakang, tujuan, emosi, serta pengalaman hidup yang perlu diperhatikan dalam merancang dan menerapkan sistem penilaian bahasa.

 

Membangun Praktik Penilaian Bahasa yang Lebih Humanis

Lebih lanjut, Dr. Frost menghubungkan persoalan pengujian bahasa dengan sejarah dan dinamika sosial di Australia, termasuk warisan kebijakan diskriminatif serta tantangan dalam membangun hubungan yang lebih adil dengan masyarakat adat. Menurutnya, pemahaman terhadap sejarah penting untuk mengidentifikasi bagaimana pandangan dan prasangka yang terbentuk pada masa lalu dapat terus memengaruhi praktik sosial pada masa kini.

Dr. Kellie Frost_2

Dalam konteks penilaian bahasa, ia menyoroti risiko penggunaan standar bahasa yang terlalu berpusat pada norma kelompok tertentu. Apabila standar tersebut diterapkan tanpa mempertimbangkan keragaman pengguna bahasa, praktik pengujian berpotensi meminggirkan kelompok tertentu dan menimbulkan anggapan bahwa variasi bahasa mereka kurang bernilai.

Ia juga menyoroti keterkaitan antara Asia dan Australia dalam penggunaan tes bahasa Inggris. Di sejumlah negara Asia, peningkatan kemahiran bahasa Inggris menjadi agenda penting untuk memperluas kesempatan pendidikan dan pekerjaan. Sementara itu, di Australia, perdebatan mengenai penggunaan bahasa Inggris oleh pendatang turut membentuk kebijakan dan praktik penilaian bahasa.

Perbedaan kecenderungan tersebut memperlihatkan bahwa tes bahasa Inggris tidak dapat dipisahkan dari kondisi sosial, kebijakan, dan kepentingan yang berkembang di setiap negara. Karena itu, kajian terhadap penilaian bahasa perlu memperhatikan bagaimana kebijakan dibentuk, bagaimana praktik tersebut dibenarkan di ruang publik, serta bagaimana dampaknya dirasakan oleh masyarakat.

Dr. Frost menegaskan pentingnya mengembangkan praktik pengujian bahasa yang lebih humanis, dengan menempatkan pengalaman, agensi, dan motivasi pengguna bahasa sebagai bagian penting dalam proses penilaian. Pendekatan ini diharapkan dapat mendorong sistem asesmen yang lebih reflektif terhadap keragaman dan lebih peka terhadap kelompok yang selama ini berpotensi termarginalkan.

 

Mendorong Refleksi Kritis dalam Pendidikan Bahasa

Sesi keynote terakhir ini menjadi ruang refleksi bagi akademisi, peneliti, dan praktisi pendidikan bahasa untuk meninjau kembali peran tes bahasa Inggris dalam masyarakat. Pembahasan mengenai kebijakan, praktik, dan dampak pengujian bahasa memberikan perspektif bahwa asesmen tidak hanya berkaitan dengan pencapaian skor, tetapi juga menyangkut keadilan, representasi, dan kesempatan individu untuk berpartisipasi dalam kehidupan sosial.

Melalui materi “English Testing in Asia and Australia: Entangled Policies, Practices, and Effects,” Dr. Kellie Frost mengajak komunitas akademik untuk terus mengembangkan pendekatan penilaian bahasa yang kritis, kontekstual, dan humanis. Perspektif tersebut relevan bagi pengembangan pendidikan bahasa Inggris di tengah meningkatnya kebutuhan kompetensi bahasa dalam dunia pendidikan, pekerjaan, dan mobilitas global.

Kehadiran materi ini sekaligus memperkaya diskusi dalam rangkaian the 72nd TEFLIN International Conference, bersama ICEMS dan TESOL Research Colloquium, dengan menegaskan pentingnya penelitian dan praktik pendidikan bahasa yang tidak hanya berorientasi pada pengukuran kemampuan, tetapi juga memperhatikan dimensi sosial dan kemanusiaan. (AM)