FITK Matangkan Arah Kebijakan 2026 melalui Workshop Pra-Raker: Perkuat Digitalisasi, Internasionalisasi, dan Daya Saing Lulusan
FITK Matangkan Arah Kebijakan 2026 melalui Workshop Pra-Raker: Perkuat Digitalisasi, Internasionalisasi, dan Daya Saing Lulusan
Gedung FITK, BERITA FITK Online—Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta menggelar Workshop Pra-Rapat Kerja sebagai langkah strategis menyusun arah kebijakan dan program prioritas tahun 2026 di ruang teater Mahmud Yunus Lantai 3 FITK (7/4). Kegiatan ini menjadi forum penting untuk menyelaraskan agenda akademik, tata kelola kelembagaan, penguatan mutu, serta transformasi layanan pendidikan di lingkungan fakultas.

Workshop yang diikuti pimpinan fakultas, ketua dan sekretaris program studi, guru besar, dosen, serta tenaga kependidikan tersebut dibuka dengan arahan strategis dari pimpinan universitas dan fakultas. Seluruh peserta dibagi ke dalam delapan komisi kerja untuk menuntaskan finalisasi dokumen program yang sebelumnya telah mulai dibahas dalam sesi pendahuluan.
Dalam sambutannya, Dekan FITK Siti Nurul Azkiyah menegaskan bahwa tahun 2026 harus menjadi momentum percepatan transformasi tata kelola fakultas, terutama dalam bidang digitalisasi administrasi dan pelayanan akademik.
“Saat ini salah satu fokus utama fakultas adalah memperkuat digitalisasi administrasi dan persuratan. Mekanisme digital sudah mulai dibangun, tetapi implementasinya masih perlu diperluas agar pelayanan akademik benar-benar efisien, efektif, dan terintegrasi,” ujar Prof. Siti Nurul Azkiyah.
Ia menjelaskan bahwa penguatan sistem digital tidak hanya menyangkut persuratan, tetapi juga integrasi layanan akademik berbasis data, monitoring perkuliahan, hingga penguatan pengelolaan dokumen pembelajaran.
Selain itu, Dekan FITK juga menyoroti pentingnya menjaga mutu akademik di tengah penerapan pembelajaran hybrid yang saat ini diberlakukan.
“Pembelajaran inovatif berbasis riset harus terus dikembangkan. Kita ingin mutu akademik tidak hanya berhenti pada pemenuhan administrasi akreditasi, tetapi benar-benar melahirkan publikasi, inovasi, dan lulusan yang kompeten secara global,” tambahnya.
Menurutnya, evaluasi terhadap pelaksanaan perkuliahan daring perlu diperketat agar tidak seluruh proses pembelajaran dilakukan secara penuh secara online, terutama untuk mata kuliah yang membutuhkan praktik langsung seperti micro teaching dan praktikum bidang sains.
Dalam paparannya, Dekan juga menekankan pentingnya penguatan research group sebagai kekuatan khas fakultas. Ia menyebut bahwa FITK telah mengalokasikan anggaran penelitian, pengabdian kepada masyarakat, serta proofreading artikel ilmiah untuk mendukung peningkatan publikasi dosen.
Tidak hanya pada aspek akademik, pengembangan sarana prasarana juga menjadi perhatian serius. Tambahan anggaran fakultas pada tahun 2026 diarahkan untuk percepatan perbaikan fasilitas, termasuk penguatan infrastruktur di kampus PPG yang selama ini membutuhkan perhatian khusus.
“Kami ingin seluruh lingkungan akademik, termasuk kampus PPG, mendapatkan perhatian yang sama agar pelayanan pendidikan berlangsung optimal,” ujarnya.
Dalam agenda internasionalisasi, Prof. Siti Nurul Azkiyah juga mendorong percepatan pembukaan kelas internasional dan skema double degree melalui kerja sama dengan berbagai perguruan tinggi luar negeri.
Ia menyebut inisiasi kerja sama dengan beberapa kampus internasional, termasuk untuk program pascasarjana, perlu segera ditindaklanjuti melalui penyesuaian kurikulum dan penguatan kesiapan akademik.
Sementara itu, Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan Prof. Ali Munhanif, M.A., Ph.D yang hadir memberikan arahan strategis menekankan bahwa capaian besar FITK dalam bidang akreditasi, digitalisasi, dan infrastruktur harus dibarengi dengan penguatan kompetensi lulusan agar mampu bersaing di dunia kerja yang semakin kompetitif.
“Keunggulan akademik tidak cukup jika tidak diikuti kesiapan lulusan menghadapi pasar kerja. Saat ini mahasiswa perlu dibekali soft skill baru, kemampuan bahasa asing, penguasaan teknologi, hingga keterampilan profesional yang relevan dengan perubahan zaman,” ujar Prof. Ali Munhanif.
Ia menilai FITK memiliki modal kuat karena karakter keilmuannya sangat dekat dengan dunia profesi pendidikan. Namun, menurutnya paradigma lama bahwa lulusan tarbiyah otomatis terserap ke dunia kerja tidak lagi cukup dalam situasi persaingan saat ini.
“Tarbiyah harus mulai masuk ke fase baru: menyiapkan lulusan yang tidak hanya unggul sebagai pendidik, tetapi juga siap memasuki profesi-profesi baru yang berkembang,” lanjutnya.
Wakil Rektor juga menyoroti pentingnya penguatan keterampilan tambahan seperti bahasa asing, literasi digital, pembuatan konten, hingga kecakapan teknologi berbasis kecerdasan buatan sebagai bagian dari strategi pengembangan mahasiswa.
Selain pembahasan program kerja internal, forum ini juga menjadi momentum penguatan agenda internasional fakultas, termasuk persiapan konferensi internasional besar yang akan melibatkan jaringan akademik global.
Dalam sesi penutupan, Dekan FITK kembali mengingatkan bahwa seluruh dokumen hasil komisi harus menghasilkan arah kebijakan yang realistis namun progresif.
“Apa yang kita susun hari ini harus menjadi amal kolektif untuk menjaga kualitas fakultas dan meninggalkan legacy terbaik bagi pengembangan FITK ke depan,” tegasnya.
Workshop pra-raker ini selanjutnya akan dilanjutkan dengan pembahasan lanjutan dan presentasi hasil komisi pada agenda rapat kerja fakultas di Hotel Salak The Heritage, yang menghadirkan narasumber eksternal untuk memperkaya perspektif pengembangan kelembagaan dan strategi tata kelola modern.
Dengan semangat transformasi, FITK menargetkan tahun 2026 sebagai fase percepatan menuju fakultas yang unggul dalam mutu akademik, tata kelola digital, internasionalisasi, serta penguatan daya saing lulusan di tingkat nasional maupun global. (AM)
