FITK UIN Jakarta Gelar Seminar Nasional: Peran Strategis Pendidikan 5.0 dalam Mencetak Guru Adaptif
FITK UIN Jakarta Gelar Seminar Nasional: Peran Strategis Pendidikan 5.0 dalam Mencetak Guru Adaptif

FITK UIN Jakarta Gelar Seminar Nasional: Peran Strategis Pendidikan 5.0 dalam Mencetak Guru Adaptif

Seminar Pendidkan2

Gedung FITK, BERITA FITK Online—Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta menyelenggarakan Seminar Nasional dalam rangka memperingati Hari Pendidikan Nasional 2026. Kegiatan ini berlangsung di Ruang Teater Mahmud Yunus Lantai 3 FITK (5/5) dan diikuti oleh dosen, mahasiswa, serta peserta dari berbagai institusi pendidikan, baik secara luring maupun daring.

Seminar nasional ini mengangkat tema besar tentang peran strategis fakultas keguruan dalam melahirkan calon guru adaptif di era Pendidikan 5.0. Acara dibuka secara resmi oleh Dekan FITK, Siti Nurul Azkiyah dalam sambutannya menekankan pentingnya transformasi pendidikan yang berpusat pada manusia di tengah pesatnya perkembangan teknologi.

“Pendidikan 5.0 bukan sekadar kelanjutan dari era 4.0, tetapi merupakan pendekatan yang menempatkan manusia sebagai pusatnya. Teknologi harus dimanfaatkan untuk kepentingan kemanusiaan, dengan tetap memperhatikan nilai, etika, dan keberlanjutan,” ujarnya.

Ia juga mengajak seluruh peserta untuk merefleksikan peran pendidikan dalam menjawab tantangan masa depan. Menurutnya, lembaga pendidikan memiliki tanggung jawab besar dalam menyiapkan guru yang tidak hanya kompeten secara akademik, tetapi juga adaptif, kreatif, dan berkarakter.

“Guru masa depan adalah mereka yang mampu mengintegrasikan teknologi dengan nilai-nilai kemanusiaan, serta memiliki kemampuan berpikir kritis dan adaptif terhadap perubahan,” tambahnya.

Seminar Pendidkan

Sebagai keynote speaker, Wakil Rektor Bidang Akademik UIN Jakarta, Ahmad Tholabi, menyampaikan materi bertajuk tantangan dan peluang kecerdasan artifisial (AI) dalam dunia pendidikan.

Dalam paparannya, ia menegaskan bahwa perkembangan AI merupakan keniscayaan yang tidak dapat dihindari, melainkan harus direspons secara bijak oleh para pendidik.

“Perubahan teknologi, khususnya kecerdasan artifisial, bukan untuk dihindari, tetapi untuk dikelola. Jika guru tidak beradaptasi, maka akan tertinggal. Namun jika dimanfaatkan dengan tepat, AI justru dapat menjadi mitra strategis dalam meningkatkan kualitas pembelajaran,” jelasnya.

Ia juga menyoroti perubahan peran guru di era digital saat ini. Menurutnya, guru tidak lagi menjadi satu-satunya sumber pengetahuan, melainkan bertransformasi menjadi fasilitator, pembimbing, dan kurator informasi.

“AI bisa menjawab ‘apa’ dan ‘bagaimana’, tetapi guru memiliki peran penting dalam menjelaskan ‘mengapa’ dan ‘untuk apa’. Di sinilah nilai-nilai pendidikan tetap harus dijaga,” tegasnya.

Lebih lanjut, ia mengingatkan bahwa tantangan terbesar di era informasi bukanlah kekurangan data, melainkan kemampuan dalam memilah kebenaran. Oleh karena itu, literasi digital dan etika dalam penggunaan teknologi menjadi kompetensi penting yang harus dimiliki oleh guru dan peserta didik.

Seminar nasional ini juga menghadirkan berbagai narasumber dari kalangan akademisi dan praktisi pendidikan yang membahas isu-isu strategis terkait pendidikan dasar, peran nilai-nilai keagamaan, hingga inovasi pembelajaran berbasis teknologi.

Melalui kegiatan ini, FITK UIN Jakarta menegaskan komitmennya dalam mendorong transformasi pendidikan yang adaptif, humanis, dan berkelanjutan, sekaligus memperkuat peran strategis lembaga pendidikan dalam menghadapi tantangan era Society 5.0. (AM)