Lima Mahasiswa PBSI FITK UIN Jakarta Turut Meriahkan Pertunjukan “Sebagaimana Bilamana Adanya” yang Diselenggarakan oleh Teater Syahid
Student Center, BERITA FITK Online- Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Teater Syahid UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, menyelenggarakan pertunjukan teater dengan tajuk "Sebagaimana Bilamana Adanya".
Pertunjukan yang disutradarai oleh Said Riyadi Abdii ini dipentaskan selama tiga hari beturut-turut, yakni pada 10, 11, 12 Maret 2023 di Hall Student Center UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
Teater Syahid dalam setiap tahunnya diketahui menyelenggarakan pertunjukan sebanyak dua kali; yakni Studi Pertunjukan yang diperuntukkan untuk anggota baru, dan Garapan Bersama untuk semua angkatan dalam keanggotaan Teater Syahid.
Terdapat lima mahasiswa PBSI FITK UIN Jakarta yang turut memeriahkan pertunjukan “Sebagaimana Bilamana Adanya”, di antaranya yakni Ridho Hafiezh, Abdul Sahri Wiji Asmoko, Ahmad Fauzi, Nur ‘Alfi Hafzhaniyah, dan Farida Maesaroh.
Para pemain diketahui telah mempersiapkan diri untuk pertunjukan dengan berlatih selama empat bulan lamanya. Mulai dari olah fisik, olah suara, olah vokal, hingga olah rasa.
Menurut informasi dari Ridho Hafiezh, pemain dari mahasiswa PBSI yang mendapatkan peran sebagai rapper dan anak kecil dalam pertunjukan tersebut, metode atau teknik khusus yang diterapkan olehnya ialah dengan menetralkan diri sendiri terlebih dahulu dan berusaha untuk mengenal diri sendiri lebih dalam lagi.
“Ya … paling teknik khususnya adalah mengenal diri sendiri terlebih dahulu sih. Karena itu penting, karena untuk menetralisirkan bagaimana tokoh ataupun karakter yang kita main, kita perlu kenal dan netralisir diri kita sendiri dulu. Itu sih kalau dariku,” terang Ridho.
Pertunjukan “Sebagaimana Bilamana Adanya” menampilkan bagaimana kebebasan dalam berpikir yang berasal dari pemikiran sutradaranya. Ia mengungkapkan bahwa saat menulis naskah tersebut, teori-teori yang semestinya ada, ia tinggalkan begitu saja.
“Kalau aku, meninggalkan teori untuk menulis ini. Karena kalau berdasarkan teori, apa yang aku tulis kayaknya nggak masuk dalam beberapa teori-teori yang masuk. Jadi ini mungkin kayak gabungan beberaoa teori. Bahkan kayak judulnya nggak ada SPOK-nya gitu,” jelas Said, sutradara “Sebagaimana Bilamana Adanya” yang mempunyai ketertarikan pada seni pertunjukan dan dunia kepenulisan sejak masa sekolah.
Tambahnya, ia mengungkapkan bahwa banyak tantangan yang dirasakan selama menulis naskah tersebut. Mulai dari mesti memperkaya referensi dengan giat membaca buku, kendala dalam mencari literatur yang tidak cukup mudah, hingga berkontemplasi dengan pengalaman yang ia rasakan sendiri.
“Baru nulis, mungkin satu paragraf, itu harus baca bukunya tiga buku gitu. Dan referensinya kita terbatas. Meskipun sekarang udah ada internet dan segala macam, tapi untuk referensi yang spesifik kayaknya susah untuk dicari,” ucap Said, pria yang pernah menjadi Juara III Lomba Naskah Monolog Pestarama #4 UIN Jakarta itu.
Naskah “Sebagaimana Bilamana Adanya” diklaim mempunyai keunikan tersendiri saat dipentaskan. Mulai dari penonton yang diperbolehkan untuk berpindah tempat, diajak berinteraksi langsung dengan pemain, sampai dengan disuguhkan teknologi imersif di beberapa sudut panggung. (Selvia Parwati Putri/ MusAm)
