Menimbang Ulang Fondasi Pendidikan Islam: Antara Logosentrisme dan School-Sentrisme Perspektif Abed al-Jabiri
Menimbang Ulang Fondasi Pendidikan Islam: Antara Logosentrisme dan School-Sentrisme Perspektif Abed al-Jabiri

Menimbang Ulang Fondasi Pendidikan Islam: Antara Logosentrisme dan School-Sentrisme Perspektif Abed al-Jabiri

Dosen MPAI2

Gedung FITK, BERITA FITK Online—Program Studi Magister Pendidikan Agama Islam (MPAI) menyelenggarakan Diskusi Dosen MPAI pada Rabu (14/1) di Ruang Sidang Lantai II FITK dengan tema Deconstructing Logocentrism and School-Centrism in Indonesia’s Islamic Education: A Critical Epistemological Analysis. Kegiatan yang berlangsung di ruang sidang fakultas membahas berbagai tantangan epistemologis pendidikan Islam di Indonesia yang secara kelembagaan berkembang pesat, namun belum sepenuhnya berbanding lurus dengan peningkatan kualitas, terutama dalam mendorong transformasi sosial, kemajuan pengetahuan, serta penguatan peradaban.

Diskusi menghadirkan Prof. Muhammad Zuhdi, M.Ed., Ph.D. sebagai pemateri utama dan Dr. Makyun Subuki, M.Hum. sebagai pembahas. Kegiatan diskusi yang dihadiri dosen-dosen dan mahasiswa MPAI ini dimoderatori oleh Dr. Abdul Mukti, M.A. serta dibuka oleh Kaprodi MPAI Dr. Erba Rozalina Yulianti, M.Ag.  Dalam paparannya, Prof. Muhammad Zuhdi,M.Ed, Ph.D. menegaskan bahwa pendidikan Islam secara normatif memiliki misi membentuk manusia beriman, berilmu, dan berakhlak, serta mampu menjalankan perannya sebagai khalifah fi al-ardh. Pendidikan Islam bukan sekadar transmisi pengetahuan agama, melainkan proses pembentukan kualitas iman dan moralitas yang mendorong kontribusi nyata bagi kehidupan sosial.

Diskusi kemudian menyoroti dua kecenderungan yang dinilai menjadi akar persoalan epistemologis dalam pendidikan Islam, yakni logosentrisme dan school-centrism (mazhab-sentrisme). Logosentrisme dipahami sebagai cara berpikir yang menempatkan kebenaran sebagai sesuatu yang tunggal, final, dan tidak membutuhkan kritik, sehingga ruang dialog serta pembacaan kontekstual menjadi sempit. Sementara mazhab-sentrisme merupakan kecenderungan menjadikan satu perspektif sebagai otoritas absolut dan menegasikan perspektif lain, yang berpotensi melahirkan fanatisme intelektual dan mempersempit cakrawala berpikir.

Dr. Makyun Subuki, M.Hum.  menambahkan bahwa problem tersebut tampak dari paradoks pendidikan Islam di Indonesia: pertumbuhan institusi yang cepat belum selalu diiringi pembangunan kualitas epistemik dan moralitas sosial. Berbagai persoalan seperti intoleransi, radikalisme, serta keterbatasan penguasaan ilmu pengetahuan modern menunjukkan bahwa pembangunan kelembagaan perlu disertai pembaruan cara berpikir dan orientasi pendidikan.

Diskusi juga menyinggung kecenderungan reduksi orientasi pendidikan Islam yang lebih menekankan aspek tertentu dari ilmu agama, sementara pengembangan disiplin ilmu lain kurang memperoleh perhatian sebanding. Dikotomi fardhu ‘ain dan fardhu kifayah disebut turut memengaruhi ketidakseimbangan tersebut, sehingga pendidikan agama kerap berfokus pada ritualitas individual dan kurang mendorong penguatan dimensi sosial-ilmiah.

Sebagai kerangka teoretis, diskusi menggunakan epistemologi Muhammad Abed al-Jabiri yang membagi tradisi nalar Islam menjadi tiga, yakni bayani, irfani, dan burhani. Dalam forum ini dijelaskan bahwa pendidikan Islam di Indonesia masih banyak didominasi nalar bayani dan irfani, sehingga proses berpikir cenderung repetitif, kurang produktif, dan minim kreativitas ilmiah. Salah satu dampaknya adalah cara memperlakukan turath (warisan intelektual Islam) yang sering disakralkan, sehingga lebih banyak dipuji daripada dikaji secara kritis. Pemateri menekankan pentingnya pembaruan pendidikan Islam melalui penguatan kesadaran kritis, kebebasan berpikir, pedagogi inovatif, serta perluasan orientasi ilmu. Konsep akal aktif dan akal pasif turut dibahas sebagai kunci transformasi: akal pasif tunduk pada pola mapan tanpa evaluasi, sedangkan akal aktif bersifat kreatif dan produktif dalam mengolah realitas serta menghasilkan pengetahuan baru.

Di akhir kegiatan, forum diskusi menyimpulkan bahwa tantangan terbesar pendidikan Islam di Indonesia terletak pada aspek epistemologi yakni cara memahami ilmu, memproduksi pengetahuan, serta memaknai warisan intelektual. Melalui kerangka berfikir Al-Jabiri, forum ini mendorong pembaruan paradigma menuju penguatan nalar burhani dan pergeseran ke akal aktif, agar pendidikan Islam tidak hanya melahirkan kesalehan ritual, tetapi juga melahirkan manusia yang cerdas, kritis, terbuka, serta mampu berkontribusi bagi kemajuan peradaban (Muhammad Rizki Saputra, MPAI).