Merawat Bahasa dan Sastra Sebagai Cermin Peradaban Ditengah Arus Literasi Digital
Merawat Bahasa dan Sastra Sebagai Cermin Peradaban Ditengah Arus Literasi Digital
Himpunan Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (HMPS PBSI) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta sukses menggelar Pengenalan Budaya Akademik Kampus (PBAK) 2026 pada Sabtu, 29 Agustus 2026 di kampus UIN PPG. Acara yang dihadiri oleh 159 mahasiswa baru ini dilaksanakan khusus untuk menyambut dan mengarahkan, agar siap beradaptasi dengan lingkungan perguruan tinggi.

Mengusung tema "Merawat Bahasa dan Sastra Sebagai Cermin Peradaban di Tengah Arus Literasi Digital", kegiatan ini dirancang untuk menanamkan pemahaman bahwa keahlian bahasa dan sastra bukan sekadar teori akademis, melainkan benteng kebudayaan serta modal penting di era digital. Kesan kebudayaan langsung terasa kuat sejak awal melalui penampilan Tari Sradan Suci dari Balangga Carika yang membawakan filosofi eling lan waspada dari syair Jawa klasik, Serat Kalatidha, sebagai bekal refleksi bagi generasi muda dalam menghadapi perubahan zaman.

Acara dibuka secara resmi melalui arahan Ketua Program Studi PBSI, Dr. Ahmad Bahtiar, M.Hum. Dalam sambutan pembukanya, Pak Abah membedah esensi PBAK serta menegaskan bahwa dunia perkuliahan jauh berbeda dibanding masa sekolah. "Penyampaian materi Bahasa Indonesia di kampus menuntut daya kritis dan kemandirian, bukan lagi sekadar hafalan. Pengenalan di PBAK ini menjadi krusial agar teman-teman mahasiswa baru siap mengubah pola pikir belajar," tegasnya.
Selanjutnya sesi materi yang dipandu oleh Naura Asyifa sebagai moderator, yang mengenalkan latar belakang dua narasumber: Pemateri pertama adalah Dr. Ahmad Bahtiar, M.Hum., Kaprodi PBSI UIN Jakarta yang akrab dipanggil Pak Abah. Sebagai "kapten" jurusan, Pak Abah tak cuma memikirkan soal urusan kuliah dan nilai, tapi juga paling rajin mengajak mahasiswanya untuk punya daya kritis tinggi. Bersama beliau, hadir Didah Nurhamidah, M.Pd., seorang dosen PBSI. Kehadiran Bu Didah memberikan inspirasi tersendiri bagi para peserta, mengingat beliau merupakan alumni PBSI yang kini kembali untuk mengabdi dan mendidik di almamater tercintanya. Berbekal pengalamannya melintasi bangku perkuliahan hingga menjadi pengajar, bu Didah membawa perspektif yang relevan dan dekat dengan dinamika dunia mahasiswa saat ini.
Dalam pemaparannya, Pak Abah mengenalkan sosok-sosok legendaris seperti Wiji Thukul, Taufiq Ismail, dan Soe Hok Gie. Penjelasan nama-nama sastrawan ini bukan sekadar mengenalkan tokoh sejarah, melainkan karena pemikiran mereka sangat melekat dan menjadi napas utama mahasiswa PBSI. Melalui karya-karya mereka, Pak Abah ingin menanamkan pondasi bahwa mahasiswa PBSI harus tumbuh menjadi pribadi yang kritis, berani menyuarakan kebenaran, mencintai alam, dan membela sesama. Beliau juga memaparkan keunggulan PBSI yang telah terakreditasi internasional (ACQUIN), sehingga lulusannya memiliki daya saing global.

Sementara itu, Bu Didah membawa materi yang sangat dekat dengan realitas mahasiswa baru. Beliau mengulas berbagai latar belakang alasan mahasiswa memilih PBSI mulai dari cita-cita menjadi guru, arahan orang tua, hingga minat pada sastra. Bu Didah menegaskan pentingnya melalukan perubahan pola pikir (mindset shift). Kata "Maha" pada mahasiswa menuntut tanggung jawab moral dan kemandirian belajar yang lebih besar, di mana pengarahan dosen berbeda dengan pola pembimbingan guru di sekolah. Daripada terus mempertanyakan "kenapa saya masuk PBSI?", Bu Didah mendorong mahasiswa untuk bertanya pada diri sendiri: "saya mau jadi apa di PBSI apakah menjadi guru, sastrawan, atau ahli bahasa?"
Lebih lanjut, Bu Didah membedah tiga pilar utama ranah keilmuan di PBSI, yaitu Linguistik, Pembelajaran, dan Sastra. Beliau menjelaskan gambaran bagaimana menjadi calon pendidik versi ideal, di mana mahasiswa dituntut menjadi active learner yang terlibat langsung dalam penelitian, tugas lapangan, dan proses kreatif. Perkuliahan di PBSI ditekankan sebagai perjalanan baru yang penuh eksplorasi. Bu Didah pun menutup pemaparannya dengan memberikan pesan motivasi yang mendalam bagi perjalanan akademis mereka: "Datanglah dengan rasa ingin tahu, belajarlah dengan keberanian, dan pulanglah nanti dengan karya."
Pada sesi interaktif, poin inti yang ditekankan adalah pemahaman mendasar mengenai karakteristik karya sastra bermetafora tinggi, serta penegasan bahwa peluang karir PBSI sangatlah luas. Lulusan PBSI tidak hanya berprospek menjadi guru, tetapi juga bisa berkarier di tingkat internasional seperti pengajar BIPA di luar negeri hingga menjadi saksi ahli linguistik forensik di kepolisian.
Acara berlanjut ke sesi sharing bersama alumni PBSI 2023, Kurnia Dhafandy Ramadhan (Bang Kurdha). Mengutip pesan dosen PBSI Dr. Makyun Subuki bahwa mahasiswa wajib berbekal membaca dan berdiskusi, Bang Kurdha langsung melempar pertanyaan pemantik: "Apa yang akan kamu lakukan dalam 3,5 hingga 4 tahun ke depan?"
Bang Kurdha menanyakan hal tersebut bukan tanpa alasan. Pertanyaan ini disengaja untuk memicu kesadaran mahasiswa baru sejak hari pertama agar mereka mulai memetakan target hidup dan tidak terjebak dalam Quarter Life Crisis (krisis usia 20-an). Dampak dari pertanyaan reflektif ini membuat para peserta langsung terdorong untuk memikirkan perencanaan kuliah, membangun relasi, serta menyadari bahwa ilmu PBSI sangat fleksibel untuk diterapkan di berbagai industri kreatif seperti media dan penerbitan. Bang Kurdha juga membekali peserta dengan keterampilan penting seperti literasi digital, kecerdasan emosional, dan manajemen proyek.
Melalui kegiatan ini, HMPS PBSI berhasil menghadirkan ruang penyambutan yang tidak hanya mengenalkan iklim kampus, tetapi juga membakar semangat para mahasiswa baru untuk siap berproses dan merawat bahasa serta sastra Indonesia sebagai cermin peradaban di era digital.