“Musyawarah Burung”: Pementasan Terakhir Pestarama #10+1

“Musyawarah Burung”: Pementasan Terakhir Pestarama
BERITA FITK Online— Pestarama #10+1 resmi menampilkan pementasan terakhir pada Kamis, 14 Mei 2026 di Gedung Teater Bulungan, Blok M, Jakarta Selatan. Pementasan penutup kali ini menampilkan drama "Musyawarah Burung” dengan slogan “Demi Hidup yang Lebih Baik” yang dipersembahkan oleh mahasiswa PBSI kelas C UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Pementasan tersebut menjadi bagian akhir dari rangkaian Pekan Apresiasi Sastra dan Drama (Pestarama) yang setiap tahunnya menjadi wadah kreativitas mahasiswa dalam bidang sastra dan seni pertunjukan.
Acara dibuka oleh pembawa acara dengan menyambut para tamu undangan, dosen, sivitas akademika, orang tua mahasiswa, serta para penonton yang hadir memenuhi Gedung Teater Bulungan malam itu. Suasana gedung terlihat ramai sejak sebelum acara dimulai karena antusiasme penonton yang ingin menyaksikan pementasan terakhir Pestarama #10+1.

Sebelum pertunjukan dimulai, laporan kegiatan disampaikan oleh Produser Pestarama #10+1, Rosida Erowati, M.Hum. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan bahwa Pestarama bukan sekadar acara tahunan, melainkan ruang yang mampu menciptakan memori, pemahaman, serta meningkatkan rasa percaya diri dan moral mahasiswa melalui apresiasi sastra dan drama.
“Pestarama dari tahun ke tahun semoga menciptakan sebuah gelombang pengembangan karakter untuk seluruh mahasiswa,” ungkap produser Pestarama sekaligus dosen PBSI tersebut.
Sambutan berikutnya disampaikan oleh Wakil Dekan I Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, Dr. Yanti Herlanti, M.Pd. Beliau mengapresiasi seluruh pihak yang terlibat atas kerja keras mahasiswa PBSI dalam menghadirkan pertunjukan yang tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga sarana pengembangan seni dan budaya.
“Kajian drama bukan hanya sekadar mata kuliah, tetapi sebagai wadah sastra yang menilai emosi dan kerja sama yang dikemas dalam suatu makna,” ujar Wadek I FITK tersebut.
Memasuki inti acara, drama “Musyawarah Burung” mulai dipentaskan di hadapan para penonton. Drama yang diadaptasi dari karya Fariduddin Attar ini menceritakan tentang sekelompok burung yang merasa gelisah karena hujan yang terus mengguyur negeri mereka. Keresahan tersebut membuat para burung melakukan perjalanan panjang untuk mencari Sang Maha Raja yang diyakini dapat membantu menyelesaikan permasalahan mereka. Dalam perjalanan itu, para tokoh menghadapi berbagai konflik batin dan pengorbanan yang menggambarkan perjuangan manusia dalam mencari makna kehidupan.

Penampilan para pemain yang didukung oleh tata cahaya, musik, dan artistik panggung berhasil membangun suasana pertunjukan yang emosional, sehingga penonton terlihat larut dalam cerita yang disampaikan. Beberapa dialog yang dibawakan para pemain juga meninggalkan kesan mendalam bagi para penonton.
Di sela pertunjukan, terlihat antusiasme penonton sepanjang pementasan berlangsung. Beberapa adegan bahkan mendapat gelak tawa saat salah satu pemain memerankan karakter burung dengan suara yang menyerupai suara burung asli. Salah seorang penonton menyampaikan kesannya terhadap pementasan tersebut.
“Aku suka yang bagian menyerupai suara burung, menurutku itu lucu banget,” ucap salah satu penonton.
Selain pementasan drama, Pestarama #10+1 juga menghadirkan pameran yang menampilkan dokumentasi perjalanan Pestarama dari tahun ke tahun, proses produksi pementasan, serta berbagai karya yang berkaitan dengan sastra dan teater. Pameran tersebut menjadi salah satu daya tarik bagi pengunjung yang ingin melihat lebih dekat proses kreatif di balik berlangsungnya acara.
“Pamerannya menurutku sangat menarik dengan banyak poster-poster dari generasi pertama hingga sekarang sudah lebih dari satu dekade,” ujar salah satu pengunjung pameran.
Usai pementasan selesai, acara dilanjutkan dengan prosesi penyerahan apresiasi kepada seluruh pihak yang terlibat dalam produksi drama “Musyawarah Burung”. Ketua Program Studi PBSI, Dr. Ahmad Bahtiar, M.Hum., menyerahkan bunga kepada Produser Pestarama #10+1 sebagai bentuk penghargaan atas dedikasi selama proses penyelenggaraan acara. Selain itu, dilakukan pula penyerahan poster pementasan kepada sutradara, Humairoh Azzahra, serta pemberian sertifikat kepada pembimbing pementasan, Bangkit Sanjaya.
Rangkaian kegiatan kemudian ditutup dengan sesi foto bersama dan pemberian apresiasi dari orang tua serta sahabat kepada para pemain. Melalui pementasan penutup ini, diharapkan Pestarama #10+1 dapat terus menjadi ruang apresiasi sastra dan drama. Serta menjadi wadah pengembangan kreativitas mahasiswa dalam bidang sastra dan seni pertunjukan. (red. PBSI, HA)