PAI di Era Kecerdasan Artifisial: Antara Transformasi Teknologi, Otoritas Ilmu, dan Ketahanan Nilai
PAI di Era Kecerdasan Artifisial:
Antara Transformasi Teknologi, Otoritas Ilmu, dan Ketahanan Nilai
Gedung FITK, BERITA FITK Online—Program Studi Magister Pendidikan Agama Islam (MPAI) Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta kembali menggelar agenda akademik penting bertajuk Stadium General dengan mengusung tema "PAI di Era Kecerdasan Artifisial: Antara Transformasi Teknologi, Otoritas Ilmu, dan Ketahanan Nilai".
Kegiatan ilmiah yang diselenggarakan pada Senin, 26 Oktober 2026 ini bertempat di Ruang Teater Prof. Mahmud Yunus, Lantai 3 Gedung FITK UIN Jakarta. Acara ini dihadiri oleh jajaran pimpinan prodi, dosen, serta mahasiswa lintas jenjang S1 dan S2 di lingkungan FITK UIN Jakarta yang antusias mendalami dinamika perkembangan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence / AI) dalam lanskap pendidikan Islam.
Bertindak sebagai narasumber utama dalam stadium general ini adalah Irfana Steviano, S.Pd., M.Ed. (Pengembang Teknologi Pembelajaran Kemendikdasmen RI dan DPF Academy Lead), yang memaparkan materi mendalam mengenai strategi adaptasi dunia pendidikan di tengah disrupsi teknologi tanpa harus kehilangan akar otoritas keilmuan dan nilai-nilai moral.

Kaprodi MPAI Tekankan Urgensi Ta’dib di Tengah Disrupsi AI Ketua Program Studi MPAI FITK UIN Jakarta, Dr. Erba Rozalina Yulianti, M.Ag., dalam sambutannya menekankan bahwa tantangan Pendidikan Agama Islam (PAI) saat ini bukan sekadar mentransfer ilmu (transfer of knowledge).
Beliau menyampaikan tiga poin kegelisahan utama dalam menghadapi era digital:
“Kegelisahan dalam AI yang perlu saya sampaikan Pertama, Transformasi Teknologi adalah Keniscayaan: Mau tidak mau, civitas akademika harus menerima dan beradaptasi dengan transformasi teknologi, di mana mahasiswa PAI diharapkan mampu mahir memanfaatkan AI. Kedua, Krisis Otoritas Keilmuan, Meskipun AI mampu memberikan banyak pengetahuan secara instan, muncul pertanyaan mendasar mengenai kemampuan AI dalam menghadirkan proses ta’dib (penanaman adab dan moral). Ketiga, Ketahanan Nilai: Mahasiswa PAI harus mampu kembali ke khittah-nya, yakni menguasai esensi ta’dib, dan tidak sekadar terbatas pada ta’lim (pengajaran) dan tarbiyah (pendidikan”.
Dukungan senada juga disampaikan oleh Wakil Dekan II FITK UIN Jakarta, Dr. Yudhi Munadi, S.Ag., M.Ag. sekaligus membuka dengan resmi kegiatan hari ini. Dalam arahannya, "Saya berharap materi stadium generale kali ini bisa menginspirasi teman-teman mahasiswa untuk menjadikannya bahan tesis. Selain itu, menuntut ilmu itu sebenarnya harus diniatkan sebagai hobi, supaya kita selalu semangat menjalaninya. Menariknya lagi, teknologi seperti AI bahkan bisa kita manfaatkan untuk membantu memfasilitasi ruang diskusi antarmanusia." Ujarnya.

Sesi Inti: Konsep "Garbage in, Garbage Out" dan Kunci Sukses Mahasiswa
Sesi inti stadium general yang dipandu oleh moderator mahasiswa MPAI, Muhammad Syahril Sabda, S.Pd., menghadirkan pemaparan bernas dari Irfana Steviano, S.Pd., M.Ed.
Dalam pemaparannya, narasumber menekankan pentingnya bagi mahasiswa PAI untuk menjadi cerdas terlebih dahulu sebelum menggunakan AI. Mengusung prinsip "Garbage in, Garbage Out", beliau mengingatkan bahwa jika pengguna AI tidak memiliki pemikiran yang kritis dan literasi yang memadai, maka hasil keluaran dari teknologi tersebut pun tidak akan optimal dan berkualitas.
Selain aspek teknis kecerdasan buatan, materi ini juga membekali mahasiswa dengan strategi pengembangan diri menjelang kelulusan, yang mencakup dua hal krusial: pertama, Pengalaman, berupa Pentingnya aktif menempa diri melalui berbagai aktivitas akademik dan non-akademik. Kedua, Pencitraan (Personal Branding) berupa perlunya membangun reputasi positif dan profesional di ruang publik maupun digital.
Sesi diskusi dalam acara stadium general ini berlangsung sangat interaktif, ditandai dengan tingginya antusiasme serta beragam pertanyaan kritis dari para audiens. Rangkaian acara kemudian diakhiri dengan penyerahan cinderamata kepada narasumber, serta ditutup dengan doa bersama yang dipimpin oleh mahasiswa MPAI, Muhammad Rizki, S.Pd. (Red.ARR,MPAI)
