Yudisium ke-141 FITK UIN Jakarta Kukuhkan Lulusan Inovatif, Berintegritas, dan Berdampak bagi Kemanusiaan
Yudisium ke-141 FITK UIN Jakarta Kukuhkan Lulusan Inovatif, Berintegritas, dan Berdampak bagi Kemanusiaan

 Yudisium ke-141 FITK UIN Jakarta Kukuhkan Lulusan Inovatif, Berintegritas, dan Berdampak bagi Kemanusiaan

Auditorium Harun Nasution, BERITA FITK Online—Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta kembali menggelar Pelepasan Alumni dan Yudisium Wisuda Sarjana, Magister, dan Doktor ke-141 pada Selasa (1/9/2026). Mengusung tema “Mengukuhkan Lulusan Inovatif, Berintegritas, dan Berdampak bagi Kemanusiaan”, kegiatan berlangsung di Auditorium Harun Nasution, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Kegiatan yudisium dihadiri oleh Dekan FITK UIN Jakarta Prof. Siti Nurul Azkiyah, M.Sc., Ph.D., Wakil Dekan Bidang Akademik Dr. Yanti Herlanti, M.Pd., Wakil Dekan Bidang Administrasi Umum Dr. Yudhi Munadi, S.Ag., M.Ag., Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan, Kerja Sama, dan Alumni Salamah Agung, M.A., Ph.D., Kabag TU Imam Thobroni, S.E, para Ketua dan Sekretaris Program Studi serta peserta yudisium.

Materi dan pembekalan disampaikan oleh Menteri Agama RI Periode 2014-2019, Lukman Hakim Saifuddin serta mengikuti arahan Dekan.

Nurul Azkiyah

Dalam arahannya, Dekan FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Prof. Siti Nurul Azkiyah, M.Sc., Ph.D., menyampaikan bahwa yudisium bukanlah akhir dari perjalanan para mahasiswa, melainkan awal untuk memasuki fase kehidupan berikutnya dan memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat.

“Hari ini berbicara tentang berakhirnya masa studi kalian. Kita sudah mendengar bahwa hari ini adalah penghujung perjalanan akademik kalian. Tentu banyak cerita, banyak tantangan yang harus kalian hadapi selama menempuh studi kalian semua di Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Alhamdulillah, hari ini kalian semua sampai di titik ini, titik yang saya kira menjadi awal untuk melangkah ke masa depan, yang tentu kita berharap Anda berkarya dan juga menjadi titik awal untuk kalian berkontribusi secara nyata di dunia masyarakat, di dunia pendidikan di Indonesia,” tutur Prof. Siti Nurul Azkiyah.

Ia juga menyampaikan apresiasi kepada para lulusan atas pencapaian yang telah diraih, sekaligus kepada orang tua dan keluarga yang telah memberikan dukungan selama proses pendidikan.

“Saya juga ingin mengucapkan selamat kepada para orang tua dan keluarga kalian semuanya. Karena tentu perjalanan kalian tidak berjalan sendiri, tetapi disupport, ditopang oleh orang tua, Bapak-Ibu kalian, dan juga keluarga kalian semuanya.”

 

Peserta Yudisium 141 FITK

Tiga Pesan bagi Para Lulusan

Dalam kesempatan tersebut, Prof. Siti Nurul Azkiyah memberikan tiga pesan utama yang perlu dibawa para lulusan setelah meninggalkan bangku perkuliahan, yaitu menjadi lulusan yang inovatif, berintegritas, dan berdampak bagi kemanusiaan.

Pertama, ia mendorong para lulusan untuk menjadi pribadi yang inovatif. Menurutnya, perubahan dunia berlangsung sangat cepat, terutama dengan perkembangan teknologi dan artificial intelligence (AI). Karena itu, lulusan tidak cukup hanya mampu menggunakan pengetahuan yang sudah ada, tetapi juga harus mampu menciptakan gagasan baru dan mencari solusi atas berbagai persoalan.

“Inovasi bukan sekadar membangun teknologi. Inovasi adalah kemampuan melihat persoalan dengan cara yang baru dan mencari solusi yang realistis dan lebih baik. Jadilah lulusan yang tidak hanya memahami, tetapi mampu menciptakan. Jadilah profesional yang tidak hanya menulis, tetapi juga menghasilkan pengetahuan yang berguna. Jadilah profesional yang tidak hanya menyelesaikan pekerjaan, tetapi mampu memberikan solusi dan memberikan dampak kepada masyarakat.”

Kedua, Dekan FITK menekankan pentingnya integritas. Di tengah kemudahan teknologi dalam menghasilkan informasi, konten, dan karya akademik, integritas menjadi nilai yang semakin penting. Ia mengingatkan para lulusan agar tidak mengorbankan kejujuran demi keuntungan sesaat.

“Integritas adalah hal yang sangat penting. Bekerja tanpa integritas tentu akan menjadi masalah. Teknologi tanpa etika dapat menjadi ancaman untuk umat manusia. Kreasi tanpa kejujuran akan mengganggu makna. Jadilah lulusan yang menjunjung amanah dan etika di mana pun kalian berada.”

Ketiga, para lulusan diminta untuk menjadikan ilmu yang diperoleh selama menempuh pendidikan sebagai sarana untuk memberikan manfaat dan dampak bagi sesama. Menurut Prof. Siti Nurul Azkiyah, keberhasilan seseorang tidak semata-mata diukur dari gelar, jabatan, maupun capaian akademik, tetapi dari seberapa besar kehadirannya mampu membuat kehidupan orang lain menjadi lebih baik.

“Ilmu yang kita miliki jangan sedikit lebih dari diri kita sendiri. Kata pendidikan, jadinya adalah tentang manusia. Tentang bagaimana kita bisa membangun manusia yang menjadi lebih berpengalaman, lebih berdaya, lebih berkarakter, dan lebih mampu menjalani kehidupannya dengan penuh martabat.”

Ia menegaskan bahwa ukuran keberhasilan lulusan bukan hanya seberapa tinggi posisi yang dapat dicapai atau seberapa banyak karya yang dihasilkan, tetapi juga seberapa banyak orang yang menjadi lebih baik karena kehadiran mereka.

“Justru seberapa banyak orang yang kemudian menjadi lebih baik karena kehadiran kalian semua. Artinya, kita harus bisa menjadi individu yang inspiratif dan kehadiran kita memberikan makna untuk lingkungan di mana kita berkarya.”

 

Hiburan Yudisium 141 FITK

Ilmu Harus Dibawa Keluar dari Ruang Kelas

Prof. Nurul juga mengingatkan bahwa dunia yang akan dihadapi para lulusan semakin kompleks. Berbagai persoalan seperti perubahan teknologi, krisis lingkungan, intoleransi, disinformasi, dan persoalan sosial lainnya membutuhkan sumber daya manusia yang tidak hanya kompeten secara akademik, tetapi juga memiliki karakter dan kepedulian terhadap kemanusiaan.

“FITK telah memperdayakan kalian semua dengan pengetahuan dan juga kompetensi. Tetapi perjalanan justru baru dimulai pada hari ini. Bawalah ilmu itu keluar dari ruang kelas. Bawalah nilai-nilai itu keluar dari tempat kalian bekerja. Bawalah semangat ke tengah masyarakat.”

Ia memberikan gambaran konkret mengenai bagaimana lulusan dapat memberikan dampak sesuai dengan profesi yang dijalani. Jika menjadi guru, lulusan diharapkan mampu memberikan harapan kepada peserta didik. Jika menjadi peneliti, ilmu yang dihasilkan hendaknya menjawab persoalan nyata di masyarakat. Sementara jika menjadi pemimpin, kewenangan harus digunakan untuk melayani.

“Jika kalian menjadi guru, berikan kesempatan kepada murid yang semakin hampir kehilangan harapan. Jika kalian menjadi peneliti, hasilkan pengetahuan yang bisa menjawab persoalan nyata di masyarakat kita. Jika kalian menjadi pemimpin, gunakan wewenang untuk melayani. Dan jika kalian menjadi profesional, bekerjalah dengan kejujuran untuk kemudian memberikan dampak dan kesempatan.”

Lebih lanjut, Dekan FITK berpesan agar para lulusan tidak berhenti belajar setelah menyelesaikan pendidikan formal. Menurutnya, perkembangan zaman menuntut setiap individu menjadi pembelajar sepanjang hayat.

“Jangan pernah berhenti untuk belajar. Kita semua adalah pembelajar sepanjang hayat. Terus membaca, terus bertanya, terus berdiskusi, terus meneliti, dan terus memperbaiki diri.”

Pada akhir arahannya, Prof. Nurul menyampaikan bahwa keberhasilan para lulusan tidak lahir secara instan. Di balik pencapaian tersebut terdapat doa, pengorbanan, lingkungan, kesabaran, serta dukungan keluarga yang turut mengantarkan mereka hingga mencapai tahap yudisium.

“Keberhasilan kalian semua tidak lahir hanya dalam satu malam. Ada doa yang panjang, ada pengorbanan, ada lingkungan dan juga kesabaran yang mungkin tidak selalu terlihat dari kalian semuanya, dan juga doa-doa dari orang tua kalian semuanya.”

Ia pun berpesan agar para lulusan senantiasa menjaga nama baik almamater, tetap rendah hati, serta membawa nilai-nilai kemanusiaan dalam setiap langkah kehidupan.

“Jadilah lulusan yang inovatif dalam berpikir, berintegritas, dan memberikan dampak. Semoga ilmu yang kalian miliki menjadi ilmu yang bermanfaat, menjadi jalan pengabdian, dan semoga di manapun kalian berada nanti kalian tetap membawa nama baik almamater. Tetap rendah hati dan tetap ingat bahwa kepemimpinan yang kita miliki pada akhirnya harus kembali kepada kemanusiaan dan kemanfaatan.”

 

Peserta Yudisium 141 FITKa

Rangkaian Yudisium

Setelah arahan Dekan, rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan pembacaan SK kelulusan oleh Wakil Dekan Bidang Akademik, Dr. Yanti Herlanti, M.Pd. Selanjutnya, peserta menyampaikan pesan dan kesan yang diwakili oleh Rafi Firdaus, kemudian dilaksanakan pelepasan jaket almamater secara simbolis.

Pada sesi akhir, panitia membacakan SK kelulusan terbaik sekaligus memberikan penghargaan kepada lulusan terbaik. Agenda tersebut menjadi penutup rangkaian Pelepasan Alumni dan Yudisium Wisuda Sarjana ke-141 FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Melalui yudisium ke-141 ini, FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta tidak hanya melepas para lulusan secara akademik, tetapi juga menitipkan harapan agar mereka mampu menjadi insan yang terus belajar, menjunjung tinggi integritas, menghasilkan inovasi, serta menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat dan kemanusiaan. (AM)