Yudisium ke-141: Perjalanan Panjang Penuh Perjuangan, Doa, dan Makna bagi Para Lulusan
Yudisium ke-141: Perjalanan Panjang Penuh Perjuangan, Doa, dan Makna bagi Para Lulusan
Auditorium Harun Nasution, BERITA FITK Online—Pelepasan Alumni dan Yudisium Wisuda Sarjana ke-141 menjadi momentum istimewa bagi para mahasiswa yang telah menuntaskan perjalanan akademiknya di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Mengusung tema “Mengukuhkan Lulusan Inovatif, Berintegritas, dan Berdampak bagi Kemanusiaan,” kegiatan berlangsung di Auditorium Harun Nasution pada Selasa (1/9/2026).

Rafi Firdaus yang menyampaikan kesan pesan pada yudisium ke-141. Pada kesempatan tersebut, Rafi menyampaikan rasa syukur sekaligus terima kasih kepada berbagai pihak yang telah membersamai para mahasiswa selama menjalani proses pendidikan.
Bagi Rafi, momentum yudisium bukan sekadar seremoni penanda berakhirnya masa studi. Hari tersebut menjadi pengingat atas perjalanan panjang yang diwarnai perjuangan, keringat, doa, pengalaman, serta berbagai proses yang akhirnya mengantarkan para mahasiswa pada pencapaian yang diraih hari ini.
“Perjalanan panjang menunjukkan perjuangan, keringat, dan doa hingga sampai pada posisi pencapaian hari ini,” demikian inti pesan yang disampaikannya dalam refleksi di hadapan para pimpinan dan peserta yudisium.
Rafi mengungkapkan rasa terima kasih kepada para pimpinan dan pihak-pihak yang telah memberikan kepercayaan serta kesempatan kepada dirinya untuk terlibat dalam berbagai kegiatan selama masa perkuliahan. Pengalaman tersebut, menurutnya, menjadi bagian penting dari proses pembentukan diri dan tidak hanya memberikan pengalaman teknis, tetapi juga memperluas wawasan serta jejaring.
Belajar Tak Hanya di Ruang Kuliah
Dalam pesannya, Rafi menekankan bahwa proses pendidikan tidak berhenti di ruang kelas. Selama menjalani perkuliahan, ia memperoleh banyak pembelajaran dari berbagai pengalaman di luar ruang kuliah, termasuk keterlibatan dalam kegiatan dan lingkungan yang mempertemukannya dengan dunia pendidikan serta pekerjaan.
Pengalaman tersebut membuatnya memahami bahwa pendidikan bukan hanya tentang teori yang diperoleh secara akademik. Interaksi, kerja sama, pengalaman organisasi dan kegiatan, serta kesempatan untuk terjun langsung ke berbagai lingkungan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari proses pembelajaran.
Ia juga menceritakan perjalanan dirinya selama menjalani masa kuliah, termasuk pengalaman bekerja dan menjalani berbagai aktivitas di luar kampus. Baginya, pengalaman tersebut menjadi pelajaran berharga dalam membangun kemandirian, kemampuan beradaptasi, serta memahami kehidupan setelah menyelesaikan pendidikan tinggi.
Pengalaman selama berada di Jakarta pun disebutnya menjadi salah satu bagian penting dalam perjalanan tersebut. Dari berbagai pengalaman yang diperoleh, Rafi kemudian mendapat kesempatan untuk mengajar dan berbagi pengetahuan di bidang teknologi informasi dan digital.
Hal itu menjadi bukti bahwa perjalanan akademik tidak berhenti ketika mahasiswa menyelesaikan perkuliahan. Ilmu dan pengalaman yang diperoleh selama berada di kampus dapat menjadi bekal untuk berkontribusi di tengah masyarakat.

Dari Mahasiswa Menjadi Bagian dari Masyarakat
Momentum yudisium ke-141 juga menjadi titik transisi bagi para mahasiswa. Setelah menyelesaikan perjalanan akademik, mereka diharapkan mampu membawa ilmu, pengalaman, dan nilai-nilai yang diperoleh selama berada di kampus untuk memberikan manfaat yang lebih luas.
Pesan Rafi menjadi refleksi bahwa keberhasilan menyelesaikan pendidikan bukanlah akhir dari perjalanan, melainkan awal dari tanggung jawab baru. Ilmu yang telah diperoleh perlu diwujudkan dalam karya dan kontribusi nyata.
Rafi menutup pesannya dengan menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah memberikan ilmu, pengalaman, kesempatan, serta dukungan selama perjalanan pendidikannya.
Sementara itu, rangkaian Yudisium Wisuda Sarjana ke-141 dilanjutkan dengan pelepasan jaket almamater secara simbolis dan pemberian penghargaan kepada lulusan terbaik.
Bagi para lulusan, yudisium ke-141 bukan sekadar tanda berakhirnya masa perkuliahan. Ia menjadi sebuah penanda perjalanan: bahwa setiap perjuangan, doa, pengalaman, dan proses yang telah dilalui merupakan bekal untuk melangkah ke fase kehidupan berikutnya—menjadi lulusan yang inovatif, berintegritas, dan mampu memberikan dampak bagi kemanusiaan. (AM)